Tampilkan postingan dengan label pengeluaran warnet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengeluaran warnet. Tampilkan semua postingan

5 Maret 2015

Client Warnet: Pakai Headset atau Pakai Speaker? Atau Gak Usah Sediakan Sekalian?

Headset Bose
Yo! Apa kabarmu di negeri sana?

Kali ini saya mau cerita tentang salah satu problema kecil yang bisa menjadi besar dalam mengurus Warnet: HEADSET. Apakah Warnet yang akan anda buka sebaiknya pakai Headset aja biar gak berisik? Atau pakai Speaker aja biar gak repot sama kerusakan? Atau daripada pusing gak suruh pelanggan bawa Speaker sendiri?

Warnet Pakai Headset

Busa Headset dicopotin

Ini dia area saya. Selama 4 tahun Warnet saya beroperasi, sejak awal sudah menggunakan Headset sebagai keluaran suara. Jadi saya cukup bisa meraba-raba kamu, eh, kelebihan dan kekurangan sebuah Warnet yang menyediakan Headset.

Bantalan Headset terkelupas

Adapun kelebihannya antara lain:
  1. Tidak berisikDengan catatan pelanggan yang main memang orangnya tenang. Jangan salah, dengan volume 100%, kita pengguna headset tidak sadar dengan volume suara kita saat berbicara. Cenderung berteriak karena yang kita dengar itu suara tembak-tembakan. Alhasil? Tetap aja berisik saat yang main saling kenal, saling ngobrol, dan saling-saling lainnya.
  2. Lebih privasiBiarkan pelanggan mendengar apa, itu hak mereka. Termasuk ah-oh-ah-oh, yes-no-yes-no, dan who's your daddy. 
  3. Lebih akuratSuara-suara akan lebih terdengar oleh pengguna headset. Misal saat menonton Youtube, perkataan demi perkataan tentu akan lebih bisa disimak. Saat menonton musik, suara distorsi gitar akan lebih terasa sangar. Saat bermain game, suara melangkah akan lebih jelas terdengar.
  4. Lebih kerenSaat selfie dengan headset, pelanggan akan terlihat lebih tampan/cantik
Mic Headset dipatahin

Sedangkan kekurangannya antara lain:
  1. Rawan kerusakanSaat Warnet saya rame dulu, minimal saya mengganti headset 1 buah dalam satu bulan. Bahkan pernah sampai 3 buah headset yang sudah tidak berfungsi lagi dalam 1 bulan. 1 headset kita terjemahkan sebagai Rp. 50.000,- dan itu bukan jumlah yang kecil untuk ukuran Warnet saya. Intinya sih yang nomer satu ini. Rusak, rusak, dan rusak, yang biasanya disebabkan oleh nomer-nomer berikutnya ini.
  2. Rawan kerusuhanKerusuhan ini biasanya terjadi jika pelanggan anak dibawah umur yang datang bergerombol. Yang main satu, yang nonton lima. Teman-teman penontonnya biasanya akan berebut ingin mendengar suara apa yang sedang didengarkan temannya. Tarik menarik pun terjadi. Tak jarang jatuh dan akhirnya rusak.
  3. Rawan kelelahanBersiaplah untuk lebih lelah karena pelanggan akan memanggil anda saat:
    - "Bang, suaranya kok gak ada?"
    - "Bang, suaranya pelan ini"
    - "Bang, headsetnya mati sebelah"
    Yang tak jarang juga terjadi karena suara di taskbar terlihat icon "mute". Selain itu juga pelanggan yang (maaf) belum sadar akan indahnya kerapian, walaupun sudah dibuat pengumuman untuk kembali meletakkan headset pada tempatnya, biasanya merapikan ini akan selalu menjadi tugas tambahan Operator. Bahkan kadang headset terletak pada tombol yang "pas" di keyboard sehingga menyebabkan komputer masuk ke BIOS saat boot dan pelanggan baru bilang: "Gak bisa ya kom ini?"
  4. Rawan-rawan lainnyaKadang kerusakan memang tidak sampai menyebabkan headset mati. Tapi kerusakan kecil seperti:
    - Busa headset dicopotin
    - Mic dicopotin
    - Patah
    - dll.
    Cukup membuat hati gembira & suka. Tinggal nyari pantai, main layang-layang, dan nyanyi-nyanyi aja.

Warnet Pakai Speaker

Speaker USB Advance 50-ribuan

Akibat seringnya ngurusin headset rusak, pernah juga saya coba pasangin Speaker di beberapa komputer client yang rawan. Yang biasanya letaknya di sudut-sudut. Tak terjangkau secara langsung oleh pandangan mata Operator. Walaupun tak terlalu lama juga, tapi berikut saya coba berikan kelebihan dan kekurangannya.
Kelebihan:
  1. Lebih hematTinggal beli, pasang, tempatkan di lokasi yang aman. Rasanya speaker mini ber-power-kan USB akan bertahan sangat lama. Tidak ada tambahan biaya pergantian bagi pemilik Warnet.
  2. Lebih rapiTak perlu dirapikan, tetap pada tempatnya. Tentu lebih rapi dibandingkan Headset berserak di atas keyboard
  3. Lebih berwarnaSuasana Warnet akan lebih hidup dengan keluaran suara dari komputer masing-masing. Ada yang dengar musik, ada yang main game, tak lupa ada yang nonton bokep. Suasana begini tentu akan mencerminkan suasana pesta yang tentunya sangat menarik
Kekurangan:
  1. Rawan penontonPenonton komputer tertentu akan bertambah seiring tontonan yang disajikan semakin menarik. Misalkan pelanggan sedang menonton filem terbaru Transformer 10, dengan adanya suara tentu akan lebih menarik penonton (yang gak main) untuk ikutan menikmati filem.. selama.. 2 jam.. Oh my god.
  2. Rawan kebisinganOperator yang bertugas harus memiliki kesabaran lebih banyak dari manusia biasa. Tak semua orang sanggup mendengar suara hiruk-pikuk dalam waktu yang lama (kita anggap aja 8 jam kerja dan komputer full terus). Mungkin yang ini bisa diatasin dengan tersedianya headset juga di komputer Billing. Biar kalo ada client manggil-manggil mau minta tambahan waktu gak bisa dengar ya kan.
  3. Rawan pengguna asalVolume di taskbar dibikin full, tak puas volume di speaker juga dibikin full. Youtube dipasang, terus main Point Blank. Sambil dengar dangdut, sambil tembak-tembakan. Oh my god.

Warnet Gak Pakai Apa-apa

Nah ini yang paling enak. Tak perlu modal, tak ada biaya maintenance. Enak nih.
Kelebihan:
  1. Tak perlu modalTak perlu modal tambahan. Hemat Rp. 50.000 per komputer di awal buka. Asik.
  2. Tak perlu biaya maintenanceTak perlu ada yang rusak. Tak perlu ada yang diganti. Penghematan semakin besar. Asik
  3. Sangat rapiTak ada kabel Speaker/Headset yang kusut diputar-putar. Tak perlu merapikan headset selesai pelanggan bermain. Asik banget.
  4. HeningTak ada lagi kebisingan suara dari komputer. Yang ada hanya kebisingan dari mulut pelanggan. Enak nih bisa tiduran.
Kekurangan:
  1. Dihindari pelanggan mesumPelanggan mesum kurang menyukai hanya melihat video saja. Konon katanya akan lebih berasa kalau terdengar suara mendesah, menjerit, dan menangis ala Jepang.
  2. Dihindari pelanggan musisiPelanggan penggemar musik dan Youtube tentu akan kecewa karena tidak bisa mendengar suara apa-apa saat dia memutar video kesukaannya. "Lebih baik tidak main disini lagi", katanya.
  3. Dihindari pelanggan jenis lainnyaDan apapun ceritanya, kalau keluaran suara dari komputer tentu kurang menarik. Lain hal jika pelanggan yang menggunakan mungkin cuma ingin mengetik dan sejenisnya. Tetap saja tersedianya Headset/Speaker akan menjadi nilai plus bagi pelanggan. Namun nilai plus ini tidak akan berguna jika tarif Warnetnya "kemahalan". Saya jamin Warnetnya bisa rame kalau gak nyediakan headset tapi tarifnya Rp. 1000/jam. Yakinlah =)
Jadi sudah bisa mutusin? Warnet yang anda buka akan pakai Headset? Atau Speaker aja? Atau gak usah pakai apa-apa biar hemat? Tulisan ini tidak bertujuan untuk menggurui, hanya berbagi apa yang saya rasakan selama 4 tahun menjalani bisnis Warnet. Mudah-mudahan berguna bagi teman-teman. 

2 Mei 2014

Tiga Bulan Berjuang di Tarif Warnet 4000 per Jam

Baiklah, sesuai saya janjikan. Ini dia penghasilan Warnet saya selama 3 bulan terakhir. Tarif 4000 per jam, apa yang terjadi?

  • Pebruari 2014: Sewa Komputer Rp. 3.503.000,-
  • Maret 2014: Sewa Komputer Rp. 3.224.000,-
  • April 2014: Sewa Komputer Rp. 1.511.845,-
Cukup menarik melihat penghasilan sewa komputer di bulan Maret 2014. Masih ada di kepala 3. Yang miris adalah bulan lalu yang cuma menghasilkan Rp. 1,5 juta dari sewa komputer saja. Sedangkan profit sebenarnya yang dihasilkan adalah:
  • Pebruari 2014: Profit Rp. 2.358.000,-
  • Maret 2014: Profit Rp. 2.945.000,-
  • April 2014: Profit Rp. 1.511.845,-
Profit itu sudah termasuk pemasukan & pengeluaran lainnya selain sewa komputer. Pemasukan antara lain:
  1. Layanan scan & print
  2. Jualan pulsa
  3. Jualan voucher (cash game)
  4. Dan beberapa layanan sampingan seperti install OS, jasa download, edit photoshop
Cukup tragis bukan? Mungkin bisa jadi pertimbangan bagi teman-teman seperjuangan yang sedang bingung dengan usaha Warnet-nya. Satu hal yang saya pelajari adalah bahwa kita sulit melawan arus pasar. Terutama jika saingan terlalu dekat. Daerah saya buka masih tergolong "perkampungan", tidak berada di jalan utama. Tiba-tiba saya merasa bahwa segala usaha yang saya buat untuk menyenangkan pelanggan itu seperti tidak ada "harganya". Lebih mahal Rp. 1500 dari Warnet tetangga membuat Warnet saya ditinggal begitu saja meski ada fasilitas lebih. AC yang dingin, WC yang sangat bersih, air minum gratis, file server yang berisi film kualitas HD terbaru plus mp3, proxy server untuk lebih mempercepat proses patching. Itu semua akan sia-sia jika ada saingan yang lebih murah walaupun sudah jelas "lag".

Tapi saya tidak akan ikut "arus" lagi =) jadi tarif Warnet saya tetap akan ada di harga Rp. 4000 per jam sementara saya mempersiapkan layanan baru. Untuk saat ini saya sedang trial and error RT-RW net kecil-kecilan. Sementara masih pakai Access Point Linksys sisa yang sudah tak terpakai lagi. Mungkin bisa menarik pengguna laptop / smartphone di sekitar Warnet saya. Keep Smile =)

15 Maret 2014

Check Point: 1 Bulan Tarif Baru

Agak telat nulis, tapi daripada tidak? Sekarang sudah tanggal 3 Maret 2014 dan sudah 1 bulan sejak Warnet saya dipasangi tarif baru. Untuk yang baru pertama kali mengunjungi blog ini, saya kutip sedikit tentang tarif baru Warnet saya:
Rp. 4000/jam untuk 2 jam pertama, +Rp. 3000 untuk tiap jam berikutnya. Kelipatan billing per Rp. 1000,-
Dengan skema tarif tersebut, ternyata tak jauh dari perkiraan. Pendapatan Warnet saya drop sekitar 50%. Tak perlu rahasia-rahasiaan lagi, berikut ini saya sajikan saja detail penghasilan Warnet saya bulan lalu, Pebruari 2014.

  • Sewa komputer: Rp. 2.887.000,-
  • Layanan: Rp. 299.000,-
  • Produk: Rp. 3.104.000,-
  • Pembayaran account (Member): Rp. 616.000,-
Dengan pendapatan sedemikian, biaya operasional bulan lalu antara lain:
  • Listrik: Rp. 660.459,-
  • ISP (Speedy 3Mbps): Rp. 1.114.000,- (termasuk PPN + biaya administrasi pembayaran klikbca)
  • Belanja voucher game + pulsa: Rp. 2.630.000,-
Dan jika dikurangkan dari pendapatan maka didapatkan profit sebesar:
Rp. 6.906.000 - Rp. 4.404.459 = Rp. 2.501.541
Wow.. profit.. bagaimana menurut anda? Dan beginilah menurut saya:

Pertama perhatikan biaya operasional yang saya sajikan. Disitu belum ada perangkat berikut:
  1. Sewa tempat, yang kebetulan saya tidak menyewa =)
  2. Gaji karyawan, selalu gunakan UMR yang mana untuk daerah saya adalah Rp. 1.500.000,-. Berhubung saya sendiri merangkap Operator bersama Istri, maka biaya total gaji kami adalah Rp. 3.000.000,-
  3. Biaya perawatan peralatan
  4. Biaya tak terduga
Sudah lihat apa yang terjadi? Bahkan untuk membayar gaji kami saja (profit - gaji):
Rp. 2.501.541 - Rp. 3.000.000 = (minus) Rp. 498,459
Membayar gaji diri sendiri saja tidak cukup saudara-saudara. Belum lagi (seandainya) harus membayar sewa tempat, belum lagi harus mengganti headset yang rusak per bulan, belum lagi kalau ada kejadian tak terduga seperti (misalnya) perangkat yang tersambar petir, dan juga termasuk (seandainya) menggaji karyawan satu orang lagi. Ingat saudara-saudara, Warnet berjumlah 10 komputer ke-atas tidak mungkin dikerjakan sendirian. Dari yang saya alami selama 3 tahun ini setidaknya Warnet berjumlah 10 komputer ke-atas membutuhkan paling sedikit:

  • 1 orang teknisi perawatan (yang saya kerjakan sendiri)
  • Karena sudah cukup lelah untuk perawatan, Saya membutuhkan 1 Operator (yang dikerjakan oleh istri)
  • Bahkan istri saya pun mengeluh terlalu lelah menjaga (butuh 1 orang Operator lagi)
Dengan demikian, saya ambil kesimpulan bahwa Warnet saya membutuhkan 3 orang Operator. Dengan biaya gaji total sebesar Rp.  Rp. 4.500.000,- maka sudah dipastikan Warnet saya mengalami kerugian yang cukup besar untuk operasional bulan Pebruari 2014.

Masih mau buka Warnet?

nb: sial.. ini ternyata belum ke-post. Pas ngecek list posting statusnya masih draft. Padahal harusnya tanggal 1 kemaren nih..